Rabu, 09 Mei 2018

P.V. VAN STEIN CALLENFELS – PELOPOR PENELITIAN SISTEMATIS PRASEJARAH HINDIA BELANDA (INDONESIA)





Disusun 
Oleh Y. Setiyo Hadi (Boemi Poeger Persada)

Umum dikenal dengan sebutan Van Stein Callenfels, memiliki nama lengkap Pieter Vincent van Stein Callenfels, dilahirkan di Maatricht pada tanggal 4 September 1883 dan meninggal di Colombo (Srilangka) pada tanggal 26 April 1938. Dikenal sebagai Arkeolog dan sejarawan yang bekerja di Nederlands-Indi (Hindia Belanda – sekarang Indonesia). Ayah van Stein Callenfels adal Jan Marius van Stein Callenfels dan ibunya dalah Suzanna Geertruida Rookmaker.

Masa Sekola Menengah atau HBS di Nijmegen, van Stein Callenfels berteman dengan N. J. Krom yang kemudian hari dikenal dengan kajian tentang Hindu di Indonesia. Van Stein Callenfels belajar Indologi di Universitas Leiden antara tahun 1902 sampai 1904.

Pada tahun 1904, Van Stein Callenfels mengikuti ujian pegawai sipil. Pergi ke Surabaya pada tahun 1905 bekerjadi pada Pemerintah Kolonial Hindia Belanda yang dipekerjakan ileh Sekretaris Jenderal Hindia Belanda. Karena tidak betah, dia mengundurkan diri pada tahun 1906 dan keliling Jawa.

Selanjutnya pada tahun 1908 bekerja pada Perkebunan Kopi Djaen di Mojokerto. Dia bekerja sebagai administrator. Van Stein Callenfels memiliki ketertarikan yang amat sangat terhadap budaya Jawa, terutama terhadap budaya wayang dan Hindu Jawa.

Sejak tahun 1915, van Stein Callenfels bekerja pada Oudheidkundige Dienst van Nedelands-Indie atau Dinas Purbakala Hindia Belanda. Kemudian antara tahun `1921 sampai 1924, van Stein Callenfels berada di Belanda untuk belajar kembali dibidang arsitektur dan arkeologi.

Guru-guru dari Van Stein Callenfels di Leiden antara lain J. Ph. Vogel, G. A. J. Hazeu, serta N.J. Krom. Menyelesaikan belajarnya pada tahun 1924 dengan disertasi yang berjudul “Sudamala in de Hindu-Javaansche Kunst” (Sudamala dalam Seni Hindu – Jawa) yang diterbitkan dalam Verhandelingen van het Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappaen, 66 : 1 (tahun 1925).

Masa belajar di Belanda, van Stein Callenfels menyaksikan bahwa hampir tidak ada kajian atau penelitian di bidang zaman Prasejarah di Hindia Belanda. Hal ini menjadi motivasi bagi van Stein Callenfels untuk kembali ke Hindia Belanda menjadi sebagai inspektur di bidang Arkeologi.

Kembali ke Hindia Belanda (Indonesia) menggiatkan kajian atau studi tentang prasejarah di Hindia Belanada. Banyak melakukukan ekskavasi atau penggalian, yang paling penting ekskavasi Gua Lawa di Sampung dekat Madiun. Van Stein Callanfells dianggap sebagai pendiri dari upaya pengkajian dan penelitian prasejarah di Hindia Belanda.

Van Stein Callanfells melakukan penelitian secara metodis dan sistematik tentang prasejarah, khususnya di Hindia Belanda, sehingga menjadi perhatian dunia internasional. Hal ini terkait dengan teori-teorinya tentang hubungan prasejarah di berbagai daerah di Asia.

Dia juga berhasil menjadi pembicara dalan Pan-Pacific Conggress (Konggres Pan Pasifik) yang dilakukan tiga tahun sekali. Penghargaan dari dunia internasional didapatkan van Stein Callenfels, seperti dari Inggris, Thailand, Annam, Kamboja, juga dari Belanda.

Van Stein Callenfels meninggal di Kolombo dalam perjalanannya menuju Belanda pada tahun 1938.

Minat terhadap kajian ini ---- silakan kontak 082266017593
email: museumboemipoeger@gmail.com
 

Selasa, 08 Mei 2018

PENELITI AWAL PRASEJARAH INDONESIA




G.E. Rumphius, pada awal abad 18 Masehi, memberikan gambaran sumber tertua tentan rekaman prasejarah di Indonesia yang berharga untuk masa depan. Keterangan dari Rumphius tentang adanya pemujaan terhadap berbagai benda-benda bersejarah pada masyarakat lokal terjadi, bahkan sampai kini masih terjadi. Hal ini menunjukkan adanya keberlanjutan tradisi dan seni prasejarah.


P.V. van Stein Callenfels menyadari pentingnya penelitian di bidang arkeologi prasejarah. Callenfels melakukan penelitian sistematis tentan prasejarah saat di Sumatera Timur pada tahun 1920. Apa yang dilakukan Callenfels memberikan perhatian terhadap arkeologi Indonesia menjadi referensi bagi peneliti-peneliti selanjutnya.


N.J. Krom, saat menjabat sebagai Kepala Dinas Arkeologi, menekankan dinas yang dipimpinnya untuk memperhatikan peninggalan prasejarah, terutama di Jawa Timur dan Kepulauan Sunda Kecil. Hal ini terjadi tahun 1921 dan 1922. (by. Y. Setiyo Hadi – dari berbagai sumber)
Mewujudkan Gerakan Boemi Poeger Persada.

Senin, 26 Maret 2018

PUSAKA ALAM (NATURAL HERITAGE)

 Rhinoceros sondaicus. Saat ini, populasi Badak Jawa adalah sekitar tidak lebih dari lima puluh di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) (Sumber Gambar: http://www.ujung-kulon.com/2017/02/taman-nasional-ujung-kulon.html)

Oleh
Y. Setiyo Hadi



Pusaka atau Warisan Alam, yang dikenal dalam bahasa Inggris sebagai Natural Heritage, mengacu pada keberadaan dari berbagai keragaman hayati (biodiversity). Keberadaan dari keragaman hayati sebagai warisan alam meliputi flora, fauna dan ekosisemtem yang di dalamnya juga meliputi struktur dan formasi geologi di dalam lingkungan alam.
Natural Heritage, sebagai suatu istilah dalam konteks di Amerika Serikat, dipopulerkan oleh Jimmy Carter tatkala sebagai Gubernur Georgia dengan membentuk Georgia Heritage Trust. Georgia Heritage ini merupakan suatu badan yang mengurusi permasalahan warisan alam dan budaya.
Keanekaragaman haryati, yang dikenal sebagai biodiversity atau biological diversity sebagai unsur utama dari warisan alam (natural heritage), merupakan semua makhluk hidup yang ada di bumi ini (tumbuhan, hewan, serta mikroorganisme) yang di dalamnya terdapat keanekaragaman genetik serta keanekaragaman ekosistem yang dibentuknya.
Ada tiga tingkatan utama dalam keberadaan dari keanekaragaman hayati (biodiversity), yaitu:
1.      Keanekaragaman Spesies
Keanekaragaman dari semua spesies makhluk hidup di bumi yang juga di dalamnya bakteri serta protista dan spesies bersel banyak (tumbuhan, jamur, hewan, multiselular).
2.      Keanekaragaman Genetik
Variasi dari berbagai genetik dalam satu spesies, baik yang terpisah dalam suatu geografis maupun antar individu dalam satu populasi.
3.      Keanekaragaman Ekosistem
Komunitas biologi yang berbeda serta asosiasinya dengan lingkungan fisik (ekosistem) masing-masing.
Keanekaragaman hayati atau biodiversty ini merupakan landasan atau fondasi dari adanya beraneka ragam jasa ekosistem atau ecosystem service. Adapun bentuk dari jasa ekosistem ini baik berbentuk barang atau produk maupun berbagai bentuk jasa yang dibutuhkan bagi perikehidupam makhluk hidup, khususnya umat manusia. Peningkatan jumlah penduduk di dunia bisa merubah kondisi ekosistem, bahkan menjadi faktor utama dari kerusakan ekosistem.
Geologi, berdasarkan asal usul katanya, diambil dari kata dalam bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata, yaitu: geos dan logos. Geos mempunyai arti bumi, sedangkan logos berarti ilmu. Jadi geologi merupakan ilmu tentang mempelajari material bumi secara menyeluruh termasuk asal mula, struktu, penyusun kerak bumi, berbagai proses yang berlangsung mulai awal terbentuknya sehingga menjadi keadaan bumi saat ini.
Geologi, sebagai warisan alam, merupakan berbagai material bumi beserta struktur dan formasi geologi dalam lingkungan alam sebagai sumber pemenuhan kebutuhan hidup makhluk hidup, terutama manusia.


(Diambil dari berbagai sumber)
Boemi Poeger, 27 Maret 2018.